18
Apr
09

MOVE TO www.5cm-legacy.com/blog

Dear Dreamers.

Content dari Blog ini akan dipindahkan ke alamat diatas, blog dari 5 cm ofiicial website. Saya mohon maaf  atas komen komen yang belum dibahas atau ditanggapi untuk selanjutnya … silahkan bergabung ke www.5cm-legacy.com/blog, untuk websitenya masih undercons. Atau bisa join ke facebook : Donny Dhirgantoro email : 5cm.friends@gmail.com

Terima kasih ya teman teman…

Regards,

Donny Dhirgantoro

20
Feb
09

“5 cm, BOOK TOUR – ONE SCHOOL, ONE WRITER”, JREENG JHENG!

“5 cm, BOOK TOUR – ONE SCHOOL, ONE WRITER”, JREENG JHENG!

Oleh : Donny Dhirgantoro

 

Jadi begini ceritanya,…

 

Sebenarnya kejadiannya absurd dan tak disangka. Jadi dulu setelah 5 cm terbit, mulailah saya yang hobi jalan jalan ini bertambah seneng  karena harus promosi’in 5 cm bareng  tim marketing 5 cm  kemana mana. Ditambah, tak disangka juga  bukunya laku. Jadilah saya sampai sekarang masih jalan kemana mana sampai tim marketing saya  cape sendiri, karena  hampir seluruh kota besar di Jawa (terutama tempat makannya) udah saya datengin. Ternyata jalan jalan dan makan makan  itu menyenangkan.

 

Dan pada suatu hari di Bandung, tepatnya di ITB, saya diundang untuk “Bedah Buku 5 cm”. Seperti biasa sambutannya antusias( ciee..). Tanpa saya sadari ternyata baru kali itu saya sadari,  (iyalah!). Banyak sekali pertanyaan selama saya bedah buku hampir di 30 kampus, acara eksibisi  dan sekolah sekolah. Dan inti pertanyaannya semuanya  hampir sama,  kira kira begini:

 

”Mas, sebenernya nerbitin buku atau novel itu gimana caranya yah?”

 

Baru di ITB , saat itu saya sadar, ternyata banyak juga temen temen yang berkeinginan kuat mau jadi penulis. Tak disangka.Ini pertanyaan selalu ada, dan saya baru sadar, memang sih otak saya agak agak punya penyakit  SMS ( short memory syndrome) alias bolot…

 

Jadi saya jawab deh seadanya…

Pertama saya nggak punya koneksi ke penerbit, bingung,  terus nelpon 108… salah sambung,  sampe jumpalitan, lari larian kesana kemari, duit abis,  nelpon gramedia, minta waktu ketemu,  sok pede , bla bla bla.. (nggak! temen temen nggak usah begitu, capek.. sumpah) karena… Cerita di Bandung tadi berlanjut..

 

Sehabis bedah buku di ITB itu , saya ngobrol ngobrol sama moderator saya tadi, namanya Adenita. Dengan malu malu bunga *nggak jelas* (karena dia ngefans sama saya), dia bilang: ” Mas saya punya tulisan?” bisa bantu ke penerbit?

 

Saya langsung jawab … ”Bisa banget!” Coba kamu ceritain sedikit!”

Dan diapun bercerita….tatatattatata…

Jadi Intinya… tentang perjuangan mahasiswa yang pengen bangat kuliah,ditentang, dan akhirnya dia kuliah dengan berhutang, dia hitung sendiri biaya kuliah

(termasuk buku, fotocopy, ongkos angkot, pulsa, pokoknya semuanya sampe recehan gocap gocap, cepe’, dia itung!!) dan ternyata setelah lulus hutangnya wow…..baca sendiri yah..kueweren..

 

Waaa !ternyata ide ceritanya bener bener orisinil dan keren. Sesampainya di Jakarta, langsung saya telfon editor saya di GRASINDO

”mas Bimo  ada cerita bagus mas..!”

 

Beberapa bulan yang lalu novel “ 9 Matahari” pun terbit, ditulis oleh Adenita.

 

Jadi maksudnya begini,:

PERTAMA kalo kamu punya ide cerita yang bagus, fresh, original,nggak boleh nyontek ya DOSA!  Kalo punya koneksi ( saat ini koneksi kamu  adalah saya- Donny Dhirgantoro-ehem!) jangan dikirim lewat pos. Kalo kamu mau   lewat saya aja. Karena…banyak sekali naskah tulisan  yang masuk ke penerbit

(beneran deh saya udah liat!)…kalo mau usaha sendiri boleh boleh aja tapi jangan dikirim ya usahain ketemu dan kamu marketingin tulisan kamu sendiri kenapa bagus..

KEDUA penerbit udah lelah (sampe curhat) baca bacain naskah yang isinya “begitu begitu aja” – kayak sinetron katanya …jadi…intinya penerbit juga mencari ide cerita yang bagus dan original … seperti si Adenita dengan 9 Mataharinya tadi.. .

KETIGA nah ketemu kan maksudnya…

Penerbit cari penulis

Penulis cari penerbit…

 

Oleh karena itu saya dan team Management 5 cm, sekarang sedang menggodok sebuah event ”5 cm BOOK TOUR – ONE SCHOOL , ONE WRITER rencananya kami akan berkeliling ke seluruh kampus dan sekolah sekolah. klab buku, toko buku untuk berkampanye dimana saja  - pokoknya sebuah  “sekolah”-  tempat kamu kamu belajar! Selain bedah buku 5 cm. Dengan beberapa narasumber lain, kami akan memberikan workshop singkat  tentang kiat kiat dan tips tips menulis yang extreme, yang berapi api, yang lain dari biasanya, masalah masalah yang dihadapi penulis dan tulisannya  dan seluk beluk dunia penerbitan sebuah buku. Dan tentu saja intinya mencari penulis penulis baru! Pokoknya kita akan berusaha  menjadikan sebuah mimpi menjadi kenyataan.  ”5 cm BOOK TOUR – ONE SCHOOL, ONE WRITER”, akan mencari penulis penulis dengan ide cerita yang gila, tetapi malu malu mau  kayak si ADENITA tadi ( *piss de!*)

 

Untuk updatenya, Saat ini eventnya masih dalam tahap proposal dan cari cari sponsor… Mimpi besarnya kalo dapet sponsor yang  akan back up sepenuhnya program ini ,kita akan kampanye  ke  seluruh Indonesia. Ditutup dengan “ Napak Tilas jalur 5 cm , Jakarta – Puncak  Mahameru”. ( wow thats big!) – BIG DREAMS! BIG FAITH. BIG FIGHT!

Sekalian minta doanya ya teman teman supaya lancar…Amin.

 

Nah…teman teman, punya ide tulisan yang bagus dan original, keren , fresh, atau GILA!?  Dukung kita! ” 5 cm BOOK TOUR – ONE SCHOOL, ONE WRITER”…  dengan meninggalkan saran/ balasan dan rekomendasi mengenai  kampus/sekolah/event/klab buku/toko/perpustaakan/komunitas (pokoknya tempat kamu kamu  belajar!)  yang bisa kami kunjungi di seluruh INDONESIA…

 

Di kampus/sekolah/event/ kamu mungkin?  Atau punya link ke sponsor (hehehe, bantuin dong!) Ayo. Asik kan! Saya jadinya bisa jalan jalan dan makan makan sama teman teman semua……hehehehe…

 

Dukung kami ”5 cm  BOOK TOUR – ONE SCHOOL, ONE WRITER!”

 

Dipersilahkan …tinggalkan balasan dan  rekomendasinya yaaa…

 

 

 

 

 

 

 

 

16
Feb
09

DONNY DHIRGANTORO oleh DONNY DHIRGANTORO, JHRENG JHENG!

Donny Dhirgantoro oleh  Donny Dhirgantoro, JHRENG JHENG!

Oleh: Donny Dhirgantoro

 

WordPress bilang gue disuruh update kolom about me…karena banyak yang liat liat.. jadi yaa ditulis aja sendiri ya…hehehe..

         

          DONNY DHIRGANTORO, lahir di Jakarta 27 Oktober 1978, menyelesaikan masa putih abu abunya di SMA 6 Jakarta. Meneruskan kuliah di STIE PERBANAS  Jakarta ( sekarang ABFI Institute, Perbanas ) angkatan 1997. Semasa kuliah aktif di  klub fotografi kampus dan Senat Mahasiswa. Pengalaman yang tidak pernah bisa ia lupakan di Senat Mahasiswa adalah sewaktu ia dan teman teman aktivis lainnya  menghidupkan kembali pelatihan aktivis mahasiswa Perbanas (Latihan Kepemimpinan Mahasiswa- LKM ), yang telah beberapa tahun vakum. Di LKM ini ia dan teman meneruskan tradisi pemberian beasiswa bagi aktivis mahasiswa berprestasi, yang dulu ia sendiri sangat menyesal pernah tidak mendapatkannya. Pemberian beasiswa itu masih terus berlanjut sampai sekarang.

          Salah satu kebanggaan lain yang tak terlupakan sewaktu menjadi mahasiswa  adalah pada tahun 1998 ikut “berjuang” bersama teman teman mahasiswa Indonesia menjadi titik kecil berwarna warni yang berteriak lantang,  bergerak sesak memenuhi gedung DPR/MPR.

          Selama masa kuliah selain aktif di kampus, dan menjadi Ketua Karang Taruna RW 06 di lingkungannya, ia  bekerja freelance menjadi Instruktur Outbound Management Training di PT BINA INTI MUDA UTAMA, sebuah perusahaan konsultan sumber daya manusia di Jakarta.

          Donny menyelesaikan kuliahnya pada tahun 2001, dengan skripsi tentang  strategi periklanan dan komunikasi pemasaran. Setelah skripsinya selesai  ia langsung merayakannya dengan  pergi mendaki Mahameru dengan teman temannya untuk merayakan upacara bendera 17 agustus di puncaknya. Sebuah perjalanan yang kelak akan merubah hidupnya.

          Saat bekerja sebagai Trainer/ Instructor SDM  ia mendapatkan banyak sekali pelajaran tentang sumber daya manusia dan pengaplikasiannya di lapangan. Saat pelatihan, ia bertemu dengan masalah masalah yang dihadapi struktur struktur manajerial, benturan benturan antara nilai nilai perusahaan dan nilai nilai individu. Ia sadar pekerjaan ini sangat bermanfaat baginya, walaupun penghasilan yang didapatkan sebagai freelancer tidak tetap.

          Pada tahun 2003 karena tuntutan ekonomi dan keluarga  ia memutuskan untuk bekerja dan berpenghasilan “tetap”. Donny pun  bekerja  di Custodial Services Division Bank Niaga, menjadi bagian dari struktur manajerial. Pada titik ini ia sadar bahwa menjadi karyawan tidak semudah yang ia kira. Apa yang diucapkannya saat menjadi instruktur tentang  aplikasi SDM  tidak mudah untuk diaplikasikan di pekerjaan dengan banyak sekali faktor faktor yang bergerak dinamis  di dalamnya. Pada titik ini ia sadar, memang “mengucapkan memang lebih mudah daripada melakukan”. Walaupun ia sendiri menyadari pekerjaan ini tidak cocok baginya ia memutuskan untuk bertahan, karena banyak hal hal yang bermanfaat yang bisa ia pelajari sebagai seorang karyawan sekaligus membayar omongan omongan sok tahunya  dulu.

          Pada pertengahan 2004 ia memutuskan untuk resign dan kembali menjadi Instruktur Outbound di PT Prima Kompetensi, sebuah perusahaan konsultan SDM di Jakarta. Kembali menjadi freelancer dengan penghasilan tidak tetap, tetapi dengan  ilmu yang berlimpah ruah, dan pernah menjadi pegwai.

          Karena sangat menyukai buku, suatu hari ia bertekad untuk “mengarang” sebuah buku, sebuah novel. Maka hanya dengan bermodal semangat ia mulai menulis dan menulis. Saat itu pekerjaan menjadi instruktur pun sedang tidak terlalu banyak,  maka ia pun menulis setiap hari dan akhirnya selama hampir kurang lebih tiga bulan tulisan itu selesai. Ia memberi judul pada novelnya “5 cm”   sebuah ilham yang ia dapatkan sehabis bangun tidur di pagi hari. “Ilham” yang pastinya terkontaminasi dengan buku buku motivasi novel novel pencerahan yang harus ia lalap untuk keperluan mengajar, serta sebuah perjalanan yang tak terlupakan  17 Agustus di  puncak Mahameru.

          Setelah mencari cari penerbit kesana kemari, pada awal tahun 2005 , ia mengajukan novel itu ke PT Gramedia Widiasarana Indonesia (GRASINDO). “memaksa” mengajukan tulisannya dalam bentuk 3.5 floppy ( dua buah) karena saat itu ia tidak mempunyai uang untuk membuat Hard Copynya sebanyak 400 halaman.

          Setelah hampir kurang lebih 4 – 5 bulan GRASINDO menyatakan setuju untuk menerbitkan novel “aneh” berwarna hitam  yang berjudul “5 cm” ini . Pada tanggal 21 Mei 2005,  5 cm mulai beredar di pasaran,  dan terus dicetak ulang sampai tulisan ini dibuat  - hampir 100 ribu kopi novel ini telah terjual.

          Allhamdulillah ia  pun merasakan anugerah yang tak terkira dari 5 cm. Novel yang “aneh dan innocent” ini ternyata dapat diterima oleh masyarakat. Ia  bisa berpergian hampir ke seluruh kampus kampus dan sekolah sekolah di Jawa dan Sumatera,  dipanggil untuk bedah buku,talkshow dan workshop menulis. Ternyata di hampir 30 kampus,sekolah,toko buku,  klab buku, book fair,  yang ia  kunjungi, ia  merasakan anugerah yang luar biasa dari para pembaca, bahwa 5 cm dapat diterima dan banyak yang bilang bahwa 5 cm telah merubah diri mereka menjadi orang yang lebih baik. Setiap ia mendengar kalimat itu, ia tersadar sendiri, mengerti arti kebahagiaan yang sebenarnya.

          Pada awal 2008 Donny memutuskan melepaskan semua pekerjaannya dan menjalani hidup sebagai penulis. Sebuah keputusan yang telah ia pikirkan masak masak. Sebuah  perjuangan baru terbentang di depannya. Sebuah keputusan yang nekat, karena ia sendiri sadar masih terhitung baru-masih berjalan bertelanjang kaki di dunia tulis menulis.

          Pada akhir 2008, setelah 3 tahun kembali bergerilya mengajukan 5 cm  ke berbagai Production House (PH), Donny menandatangani kontrak dengan SORAYA INTERCINE FILMS, yang berencana akan mengangkat 5 cm ke layar lebar. Di PH  yang telah puluhan tahun berkecimpung di dunia perfilman Indonesia ini kembali ia belajar banyak  tentang arti sebuah idealisme dan industri, dua titik yang  susah sekali untuk dipertemukan. Dua titik yang apabila dipertemukan dan teruji akan menghasilkan sebuah masterpiece. Di filmnya nanti , 5 cm akan berdarah darah mencoba menuju kesana.

          Saat ini Donny sedang mencoba menyelesaikan skenario 5 cm, yang dengan sok tahunya ia sedang mencoba membuatnya sendiri. Di sela sela kebingungan dan kekesalannya  atas ke-“gaptek”-kannya  membuat blog. Donny dengan hati berbunga bunga sedang menyelesaikan  novel keduanya.     Sekarang Donny tinggal bersama seorang Dewi dan Dei (20 bulan) di Cinere,  sebuah hunian sejuk di Selatan Jakarta.

Oleh: Donny Dhirgantoro

Teman teman pernah menulis sesuatu tentang diri teman teman  sendiri? 

30
Jan
09

5cm, Dari Novel ke Film JRENG JHENG!

DARI NOVEL KE FILM, JHRENG JHENG!

Oleh : Donny Dhirgantoro

 

 

Waktu pertama kali bilang ke Genta, Arial, Zafran, Riani dan Ian kalo  “5 cm” mau dibikin filmnya mereka pada teriak : HOREEE!!!…

 

Tapi abis itu mereka pada diem…

 

Banyak orang yang udah baca novel trus liat filmnya pada kecewa, karena tidak sebanding dengan yang apa mereka harapkan. Jadi gimana? Apa sebuah novel itu susah kalo mau  diangkat ke fillm? Apa ada novel yang sebagus filmnya atau sebaliknya bagusan filmnya daripada novelnya.

 

Gue sendiri waktu nonton Harry Potter sedikit kecewa karena tidak sesuai dengan bayangan yang ada di benak gue. Aduh kok Hogwarts nya begitu ya, dumbledornya Harry Potternya, Quiditchnya, jadi enakan baca novelnya. Tapi ada juga temen yang udah baca  novelnya bilang filmnya lebih bagus.

 

Trus ada juga  lho dari film terus dijadiin novel (novelization) filmnya Peter Weir (director),   “DEAD POET SOCIETY”  skenarionya (Tom Schulman) malahan  dapet Oscar.Filmnya dapet nominasi untuk Best Picture & Best Actor in a Leading role (Robin Williams). Novelnya ditulis oleh Nancy H Kleinbaum berdasarkan movie scriptnya.Nah lho?!

 

Jadi gimana? Bagusan novel apa Film..yuk mari.. JHRENG JHENG!

 

KALO NOVEL?

 

Iya gak sih kalo kita lagi baca novel, enak  nikmatinnya di sore yang indah atau lagi mau tidur atau lagi sendirian. Kalo saya sih senengnya pagi pagi sambil sarapan ( sape yang nanya don?). Mungkin teman teman  yang lain punya waktu favorit masing masing untuk nikmatin novel.

 

Trus kalo baca novel itu masing masing kita pasti punya bayangan sendiri tentang tokoh utamanya, tempat bernama Middle Earth, Shire , Frodo, Minas tirith, Gondor, Elf  dan lainnya.  Dan  saat kita membaca novel hampir semua panca indera kita bekerja secara simultan tetapi jauh dialam bawah sadar kita. Sehingga kerja otak kita akan menjadi lebih baik. Karena zat zat itu terus berlari larian “mengasah” otak neuron neuron kita pun nyetrum kesana kemari. Jadi kalo kata orang dulu bilang bener, baca itu bikin kita pinter. (orang dulu itu siapa ya?)

 

Dengan kata lain novel itu bersifat sangat pribadi semuanya mengalir secara pribadi. Imajinasinya pribadi, rasanya pribadi, begitu subjektifnya kita sehingga kalo novel itu bagus banget semua panca indera kita merasakan hal yang sama. Makanya pengen baca lagi baca lagi baca lagi nggak bosen bosen.

 

 

 

KALO FILM?

 

Film sifatnya lebih menghibur. Kebanyakan orang nonton film di bioskop supaya bisa terhibur, nonton dengan teman pacar saudara keluarga. Tertawa bersama, sedih bersama, keren deh pokoknya. Jadi film itu basicnya dibuat untuk konsumsi bersama bukan pribadi. Dalam konteks ini panca indera kita bekerja secara langsung mendengar melihat dan merasakan sekaligus berbagi dengan yang kita ajak nonton. Alam bawah sadar kita  tidak bekerja terlalu banyak.

 

Terjadi interaksi dari sifat dasar manusia yang ingin berbagi,  makanya banyak orang yang abis nonton merasakan sesuatu yang fun! Asik dalam diri mereka. Makan kalo cowokngajak nonton pertama kali cewek gebetannya pasti nyari film komedi, biar ketawa bareng bareng. (licik kan?) Makanya Cowok yang lagi haus belaian ngajak ceweknya nonton film horor atau film romantis  biar dipeluk peluk.  Makanya  kalo pacaran banyak yang nonton karena secara tidak sengaja dan disengaja mereka mulai berbagi..( Cieee) . Berbagi Pop corn maksudnya…

 

Buat sebagian orang juga film kadang bersifat personal ada yang seneng nonton film sendirian – bukan di bioskop. (seperti saya ). Kadang dalam kesendirian itu kita bisa merasakan refleksi dan pencerahan yang mendalam dan ikut terhanyut di dalamnya. Waktu nonton The Godfather berkali kali saya seperti menjadi bagian emosional value dari keluarga Corleone… ( I’ll make him an offer he can refuse..! Bang bang!) .  Begonya saya, saya bisa   marah marah sendiri kalo ada temen yang bilang The Godfather biasa aja… Darah sicilian saya langsung keluar dan BANG ! BANG!  BRUG!  saya tembak dia di jidat…“Leave the Gun take the Canoli…” ( why so serious? damn!)

 

Dalam konteks ini film menjadi sebuah irisan yang sama dengan novel bersifat pribadi. Individu seperti ini akhirnya menjadi subjektif ( sepert saya lagi) jadi suka bete sendiri kalo ada orang yang berpersepsi lain tentang film yang sama.   Suka marah marah sendiri kalo film yang di puja habis habisan ditonton dan dikomentari biasa biasa aja. Ya tapi nggak papa lah karena setiap orang kan punya persepsi yang beda, lo harus terima Don!

 

 

Dari Segi Penciptaan

 

KALO NOVEL?

 

Saya sebagai seorang penulis novel yang banyak diterima oleh masyarakat luas (halah!). Merasakan kalo novel emang sangat personal kita bisa menulis mau maunya kita. Kita bisa mendeskripisikan karakter semau maunya kita, bisa ngacak ngacak plot sampai kebingungan sendiri. Bisa buang buang halaman gak jelas biar disangka pinter sama yang baca. Terserah deh! pokoknya itulah keajaiban sebuah trance tulisan yang terjadi kadang nggak sadar kalo kita bisa nulis sebagus itu. Berapa halaman pun kita habisin bodo amat mau dibikin mahkluk mutan kayak gimana juga, nanti juga ada proses editingnya. Tulisan di novel selalu bersifat humanis karena  kadang keluar begitu aja melanngar segala rambu rambu. Dan biasanya hal yang kayak gitu menjadi tulisan yang keren dan yang  keren banget. Penulis novel biasanya nggak peduli sama aturan (yang peduli sama aturan pasti nggak jadi jadi tulisannya-hahaha). Jadi kebebasan sepenuhnya dalam mengapresiasikan kata perkata adalah hal  yang sakral dan kadang muncul tidak terduga…

 

Seperti kata Hemingway…

“Writing is an Adventure…it’s not about to  finish something…it’s about finding something.. .

( Menulis adalah sebuah petualangan, bukan tentang menyelesaikan sesuatu tetapi tentang menemukan sesuatu) JHRENG JHENG!

 

Jadi kadang dalam sebuah novel kita bisa merasakan ekskalasi hubungan yang Faboulus, Anynomous, Miscelaneous in somekind of way that …jiwa kita tumpah kedalamnya dan kita mau baca lagi… baca lagi.. dan baca lagi… tulisan yang keren adalah ketika si penulis menulisnya lagi trance dan yang bacanya juga ikutan trance… dan subjektivitas pun diangkat  menjadi raja bernama   Kebebasan. Tulisan di novel  adalah sebuah kebebasan.

 

KALO FILM

 

Nah ini dia dari segi penciptaan, Novel dan film bukan seperti langit dan bumi lagi tapi intibumi sama langit ketujuh ( Lo bikin hiperbola tapi jelek Don, sumpah! )  Dalam penciptaan sebuah film, ada banyak hal yang harus dipertimbangkan, diperdebatkan ,sampai harus berantem2 berdarah darah.

( film2  nggak jelas juntrungannya – faktor pengalinya adalah nol – diabaikan) .

 

Sebuah film adalah kerja tim dari banyak sekali faktor di belakangnya dan biasanya setiap faktor terintegrasi dengan sum yang berbeda ( saya lagi mencoba cerdas). Faktor faktor ini nantinya bersinggungan dan terjadi irisan yang akan membuat soul dari sebuah film keluar dari irisan masing masing dan membentuk jiwa film yang komplit.

 

Sebuah vektor vektor kecil dan rumit yang akhirnya menjadi bagian kecil yang memorable (HIP!) sesuatu yang nggak penting menjadi penting dan sesuatu yang penting diam disana menanti irisan itu datang kepadanya, jadi deh himpunan yang lengkap.  (nggak ngerti? sama!)

 

Film adalah sebuah kerja tim, ada produser, sutradara, penulis skenario, editor, sinematografi, kostum, sound, CGI ( computer generated Image – udah pada tahu don!) masih banyak lagi ngantri berharap disebutin liat aja di credit akhir film. Banyak bener,

 

 

Tapi dari yang saya baca dan cari cari…( Makanya saya berani nulisnya)

 

Kalo mau dipersempit lagi  sebenarnya ada tiga orang yang sangat penting dalam film yang dari tiga orang ini akan ketahuan filmnya akan jadi seperti apa. Ketiga orang inilah yang nantinya akan membawa irisan masing masing ke irisan besar yang komplit ketiga orang itu adalah Produser, sutradara, dan penulis ( yes!yes!yes! penulis men! penulis! JRENG JHENG!.

 

Sering disebut sebagai triangle system, bukan triangle vector tapi system karena mereka harus berpikir mereka  adalah bagian dari system. Kerja tim dalam film harus dalam sebuah system, kalo yang satu ngaco semuanya ngaco. Kalo nggak ngaco pasti ada leader yang kekuatannya super sehingga system system yang bekerja jelek itu tunduk padanya. Taoi ini gak bagus buat kelanjutan kerjanya, karena system gak kerja…

 

Ketiga orang inti itulah yang jadi jiwanya, makanya kalo di opening credit biasanya disebutin produsernya, penulis baru sutradara terakhir, mulai deh filmnya, Trus katanya biar adil waktu end credit urutannya dibalik. (katanya)

 

Karena lagi ngomongin bedanya novel sama film dan irisannya adalah di tulisan dan saya nggak punya kapasitas untuk membahas sutradara dan produser kita bahas dunia penulisan di film aja ya..

 

Kadang masyarakat  kurang menghargai  keberadaan seorang penulis skenario padahal dari mereka sebuah cerita berawal. Biasanya film akan mulai berjalan produksinya setelah skenarionya di lock.  Dari skenario itulah bisa dihitung budget, tempatnya dimana aja, porsi dialog, CGInya soundnya, editingnya, lokasi shootingnya berapa pemerannya, figurannya  Pokoknya skenario adalah kitab awal dari sebuah film.

 

Secara (alah secara) saya sedang belajar nulis skenario makanya saya baca baca melulu tentang penulisan skenario. Dari yang saya cari cari , baca bca dan ubek ubek, ternyata menulis skenario itu punya satu kata kunci yang jelas dan bold no itallic ! Kata itu adalah : DISIPLIN! ( Damn! you don’t have it Don!-  lagi belajar…).

 

Format skenario yang udah umum  biasanya adalah satu lembar sama dengan satu menit. Jadi kalo filmnya dua jam berarti 120 lembar. Lo bayangin aja pren! “5 cm” kan 380 halaman lebih! gua harus bikin jadi 120 lembar, paling banyak  135 lembar kata produsernya (geleng-geleng- itu kan masalah lo DON!)

 

Keren kan! DISIPLIN…!!! Nah disinilah ujian bagi penulis skenario yang harus menulis skenario dari buku/novel makanya dibilangnya adaptasi. Adaptasi, ini kata kuncinya JRENG JHENG!

 

Antara kebebebasan di novel dan Disiplin di skenario nggak akan  bisa ketemu makanya dua duanya harus beradaptasi. Keren juga ya analisa  gue…

 

Kira kira begini, (takut salah) Di  novel mah gue bisa ngabisin halaman ceritain Genta dan teman teman semau gue…Tambah tambahin dikit biar dikira pinter sama yang baca. Di skenario nggak bisa.  Beberapa puluh halaman di novel harus dijadikan cuma beberapa menit tapi tujuan yang dicapai harus sama makanya dituntut kreativitas super matrix untuk nerjemahinnya. Kalo nggak punya kreatifitas yah kayak di sinetron (bahkan ada lho di film)  kalau mau ditemuin.. ditabrakkin di slow mo in  buku ceweknya jatuh diambilin sama cowoknya, kenalan deh (cieeh) … Atau abis tabrakan  guling gulingan di rumput padahal  halaman rumputnya luas banget nggak mungkin tabrakan beneran deh! Ada tuh di film apa gitu ada 3 orang tokoh utamanya mau ditemuin, tiga tiga nya ditabrakin…( menghina kecerdasan banget sih!) . Gitu tuh  gara gara punya waktu selembar semenit males mikir yang lebih bagus. Males kreatif, ya udah tabrakin aja. (pyuk yaw)

 

Coba kita tengok (tengok? ) TITANIC. Waktu Jack liat Rose pertama kali, mereka  lberatatapan  memorable banget kan?  Jack di dek kelas ekonomi  lagi ngelukis dan Rose di deck kelas atas. Jack liat rose yang bgitu cantiknya ( oh.. Kate! Lob you dah! ) Dan fabrizio temennya Jack bilang “udah yang begituan bukan untuk kita nggak mungkin ” . DASH!   Belom belom udah utopis..

 

Dan saat mereka ketemu bukan ditabrakin ( walaupun akhirnya Titanic tabrakan sama gunung es –maksudnya Don? )  Saat mereka ketemu  ROSE mau bunuh diri. Kan keren banget dah tuh James Cameron … dan keluarlah Quote fanastis tis tis mereka “you jump I jump!” nih itu baru…super QUOTE! Dateng  dari  kreatifitas si penulis (pasti lagi trance).. bangga kan lo? Hebat!

 

Nyasar nyasar ke Titanic. Balik lagi ke skenario. Waktu baca baca buku buku tentang skenario (lupa namanya ribet bahasa inggris) ternyata setiap skenario itu ada yang namanya Three (3)  Act . Kalo diterjemahin ke bahasa indonesia adalah Drama tiga babak. Jadi skenario (film) itu yang ada dan masih sering dipake sampe sekarang ada tiga babaknya. ACT I adalah pengenalan karakter dan konflik , ACT II adalah konfilknya, naik turunnya berdarah darahnya survivingnya, sementara di ACT III adalah resolusi dan solusinya. Kalo sesuai dengan porsinya, contohnya durasi filmnya 120 menit berarti Act I 30 menit, ACT II nya 60 menit dan ACT III nya 30 menit.

 

Dan di tiap ACT ada sub ACT lagi yang pembagiannya hampir sama makanya kadang kadang di ACT I udah ditampilin adegan  yang amazing supaya penonton jadi penasaran dan terhanyut( alah terhanyut..) untuk terus ngikutin filmnya. Gitu sih teori dasarnya tapi banyak juga yang diobrak abrik dan bagus juga jadinya.  3  ACT kadang dipake cuma buat landasan aja. Salah satu contoh yang ACT nya nggak lazim adalah Kill Bill dan Pulp Fiction dua duanya yang bikin  Quentin Tarantino.

 

Hampir semua film komersial memakai format 3 ACT ini sebagai dasar  walaupun terkadang batasnya blur.  Tetapi kadang  secara naluriah karena yang nulisnya  tacit knowledgenya  udah embodied ke tulisannya 3 ACT ini kebentuk sendiri sama penulis . Lain halnya kalo kita bicara film film indie ada sih sedikit 3 Act nya, ada yangnggak pake, tapi banyak yang tidak terlalu memusingkanya. Ya udah lah..

 

 

HIP!

 

Penulis skenario juga harus peras otak untuk bikin setiap adegan jadi amazing dan tidak biasa. Biasanya film film yang keren AMAZINGnessnya ini ( sebut aja HIP!)- Hipnya ini kejaga dari awal sampai akhir. Kita ambil lagi contoh dari Titanic, akan biasa aja kalo Jack naik ke Titanic melenggang begitu aja karena emang udah punya tiket. Tapi  penulisnya  (James Cameroon) bikin dia naik ke Titanic gara gara menang poker! Terus di Finding Nemo akan biasa aja kalo si nemonya cuma Clownfish yang standard tapi di Finding Nemo Andrew Stanton penulisnya bikin HIPnya,  dibuatlah  sirip si Nemo kecil sebelah, dan bapaknya NEMO clownfish yang serius alias nggak bisa ngelawak..

 

Jadi gimana Dong Don skenario 5 cmnya?

 

Yang pastinya sih lagi memeras otak abis abisan, Karena saya dengan sotoynya lagi mencoba nulis sendiri skenarionya karena jarang banget ada penulis novel yang handle skenarionya juga.  Dari yang saya  baru tahu Cuma Mario Puzzo

( alah Dooon lo bandingin diri lo sama Mario Puzzo – biarin!) Mario Puzzo dibantu Francis Ford Copolla nulis skenarionya dari Godfather I sampai Godfather III, makannya  kali The Godfather SAGA sukses berat. Mungkin begitu juga nantinya dengan “5 cm” ( halah )…udah lah yang penting usaha dulu… 

 

Udah deh kepanjangan. OK!Dari tulisan diatas mungkin bisa diambil sedikit kesimpulan kalo. FILM dan Novel adalah dua jenis species yang berbeda Novel adalah embeee dan Film adalah Kuda jadi embeee sama kuda – BEDA! dinikmatinya juga dengan cara yang beda.

 

Ada saatnya kita menikmati novel dan ada saatnya kita menikmati film. Dua duanya punya kelebihan dan kekurangan masing masing, tergantung persepsi masing masing . Isi Kepala setiap orang tidak pernah sama. ( masa sih?iya ya?iya?)

 

Jadi Rugi Ah! Kalo kita repot repot berargumen  bagusan novelnya atau bagusan filmnya, jadi  bates batesin funnya , ya nggak?  Kenapa? Karena novel adalah secangkir kopi hangat  di pagi hari ditemani bau embun dan  tanah basah . Dan film adalah teh hangat yang dinikmati diantara renyahnya  canda tawa teman teman di sore hari yang hangat. Begitu kira kira menurut kesotoyan saya sendiri. JRENG JHENG!

 

 

 

 

 

 

23
Jan
09

5cm, the story behind, the dreams beyond…

5 cm.

Saya Tidak Akan Pernah Berhenti

The Story behind, the dreams beyond..

Oleh: Donny Dhirgantoro

 

 

“Cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya,tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat keatas, lapisan tekad yang  seribu kali lebih keras dari baja ,hati yang akan bekerja lebih keras  dari biasanya,serta mulut yang akan selalu berdoa”. < 5 cm >

 

Sekitar satu atau dua tahun yang lalu, saya masih ingat waktu dan tempatnya sore menjelang malam di Gramedia Blok M .Saya melihat tumpukan buku-buku baru dengan berbagai komen-komen dan desain yang menarik.Sesuatu terlintas di depan kening saya dan diam disitu untuk satu atau dua tahun kemudian sesuatu yang tiba-tiba datang dan diam itu hanya sebuah kalimat pendek.

”Suatu hari saya ingin melihat buku saya sendiri diantara tumpukan buku-buku baru  itu”.

 

 

“Sesuatu” di depan kening itulah yang mengawali lahirnya buku pertama saya yang berjudul 5 cm.

 

Proses pembuatan 5 cm merupakan suatu proses yang panjang karena begitu banyak cemilan-cemilan pahit ataupun manis yang harus saya cicipi setiap hari,demi membangun sesuatu yang diam di depan kening saya-yang saya sendiripun tidak mau melepaskannya.

Mulai dari membaca berbagai buku melihat berbagai film yang harus saya cicil karena saya harus memberikan yang terbaik dari yang saya bisa untuk 5 cm. Dalam kurun waktu dua tahun ini lah baru pada dua bulan terakhir tepatnya akhir ramadhan tahun lalu saya akhirnya mencoba menulis sedikit demi sedikit.

 

Kalimat  yang pertama yang saya tulis adalah

 

Everytime I see you falling I get down on my knees and pray…I’m waiting for that final moment you say the word that I can’t say…

 

Sebuah lirik lagu Bizarre Love Triangle dari New Order, salah satu grup band dari Inggris favorit saya. Saya sendiri pun tidak tahu kenapa saya ingin menuliskan lirik lagu itu tetapi akhirnya saya  dapat inspirasi untuk selalu menuliskan lirik lagu yang bagus dan menarik dalam pembuatan 5 cm. Kenapa? Karena banyak sekali kita dapatkan lirik-lirik lagu yang mempunyai arti yang hampir sama dalamnya dengan sebuah puisi.Sampai sekarang saya tidak tahu kenapa saya tidak memasukkan lirik diatas dalam 5 cm.

 

Terus terang satu hal yang membuat saya terus bersemangt untuk menulis adalah sebuah  film yang menurut saya sangat menakjubkan yaitu Filmnya Guys Van Sant  “Finding Forrester” yang dibintangi oleh Sean conerry sebuah film tentang seorang penulis bernama William Forrester  yang hanya menulis satu buku “The Avalon Landing”.Dari film itu saya mendapat suatu quote yang menarik yang kurang lebih berarti “Kalau kamu mau menulis ..kamu menulis ..kamu jangan berfikir tapi kamu menulis…” Setelah itu saya pun mulai menulis tanpa berfikir apa yang akan saya tulis. Saya biarkan saja tangan saya mengikuti apa yang otak saya perintahkan dan terus sampai akhirnya dua bab selesai hanya dalam waktu beberapa hari saja.

 

Dalam dua bab awal ini saya merasakan energi yang luar biasa untuk terus melanjutkan tulisan saya.Walaupun setiap hari saya harus tidur malam sekali karena banyak juga pekerjaan dari kantor yang harus saya selesaikan.Sebuah kebetulan juga mungkin, pada waktu-waktu ini pekerjaan yang harus saya hadapi dari kantor sedang tidak terlalu banyak dan saya pun hanya berstatus sebagai pekerja freelance sehingga banyak sekali waktu yang bisa saya gunakan untuk menulis .Pekerjaan saya sebagai seorang trainer /Instructor di sebuah konsultan sumber daya manusia di Jakarta pun sangat membantu saya dalam mendapatkan berbagai ide-ide yang menarik tentang pengembangan diri.Pekerjaan saya yang menuntut saya harus banyak membaca buku-buku motivasional juga membuat saya lebih mudah untuk masuk kedalam dunia pengejaran mimpi, cita cita, dan keyakinan dalam  5cm.

 

Setiap hari apabila saya tidak pergi bertugas di kantor, saya menulis mulai dari bangun tidur jam 8 pagi sampai saya harus berhenti dan biasanya saat saya berhenti adalah sekitar tengah malam atau lebih.Jam tubuh saya jadi kacau. Besok paginya saya terus usahakan untuk bangun pagi dan berhenti sekitar tengah malam juga .Apabila saya harus pergi ke luar kota untuk melaksanakan pekerjaan kantor dan kadang kalau energi untuk menulis sedang kuat sekali saya terus menulis di laptop,atau  di hotel saat senggang .Bisa dibilang 5 cm tidak hanya lahir dari komputer di kamar saya tapi juga dari beberapa training camp dan dan hotel hotel di luar kota Jakarta.

 

 Saat saat terberat adalah saat memasuki bab-bab pertengahan, dimana saya banyak merasakan menemui jalan buntu dan tidak tahu harus kemana lagi. Disinilah titik balik yang sangat mengganggu pikiran saya sampai saya harus terus berfikir keras sekali untuk membawa cerita ke bagian yang terbaik,dan dengan kemampuan terbaik yang saya miliki.

 

Tetapi akhirnya saya bisa kembali ke energi saya setelah saya bisa  menyatakan bahwa kebuntuan itu adalah sesuatu yang sangat biasa dan bukanlah sesuatu yang harus saya takuti.Saya bawa kebuntuan itu menjadi teman saya sehari hari akhirnya  setiap hari saya bisa  berteman dengan kebuntuan itu. Sehingga dengan seenaknya saya bisa menyuruh sesuatu bernama kebuntuan itu untuk pergi sebentar dari saya. Mungkin karena sudah begitu dekatnya saya dengan kebuntuan itu sehingga diapun kalau saya suruh pergi, dia nurut nurut saja.

 

Beberapa kali untuk mengatasi kebuntuan ini sampai saya ganti  nama folder  5cm  dengan “Jangan Nyerah”  ataupun “Ayo Don jangan nyerah..!!!”.Setiap kali saya lihat folder saya dengan kata kata itu walaupun terlihat mustahil saya terus tetapkan diri saya untuk tidak bisa menyerah.Bukan saya yang harus menyerah kepada kata menyerah ..Tetapi saya yang harus tahu kapan saya harus menyerah dan saya tahu saya harus tidak bisa menyerah…Saya harus punya buku.

 

 

Setiap kata dan kalimat saya mengalir begitu saja setiap hari dan begitu banyak ide ide serta jalinan cerita yang muncul setelah bab bab pertengahan yang menurut saya,saya pun tidak percaya kalau semuanya mengalir begitu saja dari tangan saya. Allhamdullilah saya diberi kekuatan oleh yang maha kuasa untuk selalu bisa memberikan yang terbaik setiap hari untuk penulisan buku saya ini.

 

Semenjak titik balik dalam bab pertengahan itulah, saya tanpa hambatan terus menulis sampai bab terakhir, sampai jalinan cerita yang saya bangun menjadi sesuatu yang saya tidak percaya kalau  saya bisa membuatnya. Perjalanan dalam bab bab tengah sampai akhir penuh dengan berbagai kejadian kejadian dan kalimat kalimat yang saya sendiri tidak percaya saya bisa membuatnya. Allhamdullilah mudah mudahan saya tidak menjadi sombong karena semua ini.

 

 

Saat saat emosional yang membuat mata saya harus berkaca banyak sekali saya temukan dalam proses penulisan terutama dalam bab 5” Don’t Stop Me Now”dan Bab 8 “A letter a heart to remember pada  saat menulis surat dari Deniek untuk Adrian sahabatnya yang harus meninggal di mahameru .Entah kenapa saya merasakan proses emosional yang luar biasa sekali ,juga pada saat saya harus menuliskan arti dari 5 cm itu sendiri pada bab 9  “5 cm”, tidak tahu kenapa saya sering merinding.Mungkin karena saya orang yang sangat emosional.

 

Setelah sekitar kurang lebih dua bulan, 5 cm pun selesai dengan masih menyisakan energi yang berapi api untuk segera memberikan buku ini ke penerbit.Tapi kemana? Saya pun bingung sekali harus kemana karena saya sama sekali tidak punya kenalan atau koneksi dengan penerbit. Tujuan selanjutnya adalah telepon. Saya pun menghubungi 108,  yang ada di otak saya waktu itu adalah adik saya punya buku Fira Basuki “Biru” yang di sampul depannya tercantum  penerbit Grasindo.Saya pun bertanya ke operator untuk memberikan nomor telepon Grasindo, yang akhirnya saya dapatkan. Tetapi ternyata setelah saya telepon bukanlah nomor Grasindo tetapi nomor perusahaan lain yang namanya hampir sama.Saya bingung dan minta maaf kepada perusahaan itu karena saya sudah terlalu semangat..

 

Saya lihat bukunya Fira Basuki kembali, terus  saya lihat lihat dan ternyata..ah gobloknya saya ternyata di balakang terlihat jelas di kiri bawah no telepon dari Grasindo beserta alamatnya. Saya pun langsung telepon Grasindo dan mendapatkan respon yang baik.Saya pun langsung menjanjikan kalau besoknya saya akan langsung pergi ke sana.Masih ada tantangan selanjutnya apakah Grasindo mau menerbitkan naskah saya?

 

Esoknya setelah menyerahkan naskah 5 cm  dari Grasindo, saya pergi ke Gramedia Pondok Indah Mall, saya melihat banyak sekali buku buku  melihat banyak sekali penerbit penerbit lain yang ada di Jakarta.Saya pun sedikit tanya tanya dan akhirnya seorang dari Agro Media memberikan kartu nama dengan  nama satu penerbit yang namanya banyak sekali tertera “Gagas Media”. Saya langsung   menelepon Gagas Media dan berpikir akan lebih aman kalau saya punya dua alternatif jadi kalau satu ditolak saya bisa mengandalkan yang satu lagi.Esoknya saya pun  pergi Ke Gagas Media yang saat itu berdomisili di daerah Depok.

 

Dalam kurun waktu satu bulan lebih melalui hubungan telepon kesana kesini akhirnya Grasindo memutuskan akan menerbitakan novel saya dalam kurun waktu 3 bulan. Akhirnya saya pun setuju dan menarik  naskah saya di Gagas Media yang ternyata sudah hampir satu bulan tidak pernah disentuh.Saya pun maklum dengan keadaan ini  karena ternyata benar benar banyak sekali naskah yang masuk ke Gagas Media dan  naskah saya masuk belakangan. Jadi saya harus antri panjang.Ego saya yang berbicara disini karena maklum penulis baru pasti sangat ingin novelnya cepat cepat diterbitkan.Hari itu saya senang sekali karena mendapat persetujuan dari Grasindo,Setelah hampir dua bulan lebih jumpalitan kesana kemari akhirnya saya akan mempunyai sebuah buku.Allhamdullilah.

 

Waktu tiga bulan untuk editing dan segala persiapan penerbitan sebuah buku merupakan sebuah penantian yang panjang. Setiap ada waktu senggang saya selalu pegi ke toko buku untuk belajar melihat lihat dan observasi untuk menambah pengetahuan saya karena sampai sekarang pun saya percaya bahwa saya belum  jadi apa-apa di dunia perbukuan saya masih  anak bawang yang punya mimpi menjadi penulis. Melihat lihat buku, melihat lihat kavernya bertanya tanya tentang lika liku buku, dan percetakan .Saya terus belajar untuk terus tahu sampai hal sekecil kecilnya dari sebuah buku.Dalam hal ini saya berterima kasih atas kesabaran  editor saya,Mas bimo dari Grasindo sekaligus mohon maaf    karena kalau saya datang ke Grasindo pasti jadinya lama sekali  karena saya sadar, saya cerewet sekali.

 

 

Satu bulan terakhir sebelum terbit  ada lagi tantangan yang harus saya hadapi karena mungkin saya orangnya sangat perfeksionis<saya membenci sifat ini ,sekaligus Mensyukurinya>. Hampir satu bulan saya dengan teman baik saya yang membantu saya membuat kaver 5 cm  harus ”berantem” dengan ide ide untuk kaver yang terbaik yang  bisa kita  berikan untuk 5 cm. Setelah saya dan dia pun bingung.Mungkin kalau bukan karena persahabatan yang sudah terjalin sangat lama kita sudah berantem, karena kira kira hampir tujuh sampai sepuluh desain yang dia buat dengan kerja keras  tidak ada yang cocok buat saya.Akhirnya… saya masih ingat momennya ..Dia meninggalkan saya di depan computer  dengan kaver hitam polos dan tulisan 5 cm..Saya masih ingat dia bilang “udah deh lo tulis disini…apa yang lo mau, semua yang lo mau buat 5 cm”..Setelah itu dia pergi main playstation meninggalkan saya sendirian di depan komputernya .Saya pun mulai menulis dan saat menulis untuk kaver itu  itu saya merasakan kekuatan yang tidak saya bisa tahan untuk membuat mata saya ber kaca-kaca.   Semua yang saya tulis di kaver itu membuat saya menjadi sentimental. Allhamdullilah semuanya mewakili harapan harapan saya untuk 5 cm.Untuk ini saya sangat berterima kasih  untuk Bayu,teman sekaligus sahabat terbaik saya yang telah mempunyai proses kreatif yang begitu hebat.Kita pun akhirnya menemui kata sepakat untuk kaver dan Allhamdullillah respon yang sangat baik saya dapatkan dari Grasindo dan dari para pembaca,banyak yang bilang kaver 5 cm sangat pas dan representative dari segi seni maupun marketing.

 

Setelah penantian yang cukup lama 5 cm pun lahir pada 21 Mei 2005, hari itu saya senang sekali bisa melihat buku saya di toko toko buku di Jakarta.Saya sering pergi ke toko buku untuk observasi dan mengamati siapa saja yang membeli buku atau sekedar melihat lihat saja.Satu hal yang sering saya bingung dan sesali kadang saya sedikit gemas kalau melihat  ada 5 cm yang belum dibuka plastik nya untuk bisa dilihat lihat dalamnya , tetapi setelah Grasindo bilang memang seharusnya ada satu buku yang dibuka akhirnya saya memberanikan diri untuk membuka plastik 5 cm di  setiap toko buku yang plastik 5 cm nya belum dibuka. Supaya pembaca bisa melihat ke dalamnya dan lebih tertarik.Sedikit bandel memang, tapi ini saya yakini sebagai salah satu bentuk dari usaha saya.Walaupun nanti resikonya bisa kena marah orang toko buku.Sekali lagi itu saya yakini sebagai salah satu bentuk usaha saya. Untuk toko buku yang plastik 5 cm nya pernah saya buka saya mohon maf.

 

Saat pertama kali terbit frekuensi saya ke toko buku sering sekali sekedar untuk belajar,melihat ,membuka plastik  atau membeli buku, saya memang sering ke toko buku tapi saat ini frekuensi saya meningkat tajam.<Saat itu saya sadar kalo saya orang yang sangat  norak,Penulis anak bawang baru punya buku>.Sesuatu yang agak mengejutkan juga terjadi saat saya melihat stok 5 cm di beberapa toko buku hanya dalam kurun waktu satu  dua minggu pertama sudah mulai menipis.Saya terus bersyukur atas anugrah ini.Sampai akhirnya hanya dalam waktu kurang dari  dua bulan 5 cm sudah mulai memasuki cetakan ke dua.

 

Banyak sekali pengalaman berharga yang tak tergantikan dalam proses kelahiran 5 cm satu satunya adalah saat tenaga waktu pikiran dan materi saya menipis untuk menulis hampir 16 jam setiap hari, bolak balik jumpalitan kesana kemari sekedar untuk belajar lebih banyak lagi.Pada saat itu saya sadar bahwa semua ini kecil sekali dibandingkan dengan apa yang Insya Allah bisa saya berikan ke orang lain  dengan adanya 5 cm, sampai pada satu titik saya sadar bahwa semuanya tidak ada apa apanya dibandingkan dengan kalau saya bisa membuat orang lain bisa belajar banyak dari 5 cm , bisa tertawa karena 5cm , bisa melangkah lebih jauh dan punya 5 cm di dalam dirinya.Semuanya itu  adalah impian saya sekarang kalau 5 cm bisa membuat orang lain dengan ijin yang maha kuasa menjadi orang yang lebih baik,menjadi orang yang bisa bernapas lebih lega ,bisa keluar dari zona nyamannya untuk mencapai impian dan cita citanya. Saya rasa itu sudah merupakan kepuasan di dunia ini yang tak bisa tergantikan dengan apapun. Dengan ijin yang Maha Kuasa saya sangat berterima kasih kalo 5 cm bisa memberi manfaat bagi orang lain dengan cara apapun.

 

Sekitar satu atau dua tahun yang lalu, saya masih ingat waktu dan  tempatnya sore menjelang malam  di Gramedia Blok M .Saya melihat tumpukan buku buku baru dengan berbagai komen komen dan desain yang menarik.Sesuatu terlintas di depan kening saya dan di diam disitu untuk satu atau dua tahun kemudian sesuatu yang tiba tiba datang dan diam itu hanya sebuah kalimat pendek

Suatu hari saya ingin melihat buku saya sendiri diantara tumpukan buku buku baru  itu”.

 

Saat 5 cm pertama kali terbit dua-tiga bulan yang lalu saya senang sekali  melihat buku saya di Gramedia Pondok Indah Mall diantara barisan buku2 baru/ New Arrival, saya melihat ke  tumpukan di sebelahnya tumpukan buku buku best seller.Sesuatu terlintas di depan  kening saya dan diam disitu,hanya sebuah kalimat pendek..

“Suatu hari saya ingin melihat buku saya sendiri diantara tumpukan buku buku best seller itu”

 

Dan sesuatu yang baru lagi di depan kening saya itulah yang sekarang sedang  saya kejar ;dengan selau memberikan yang terbaik lagi semampu saya setiap hari. Sampai akhirnya sekarang 5 cm sudah berada di tumpukan buku buku best seller.Allhamdulillah, Mudah mudahan ini  tidak membuat saya sombong.

 

 

Dengan segala kerendahan hati dari seorang yang baru dan masih berjalan bertelanjang kaki dalam dunia tulis menulis saya menyimpulkan bahwa totalitas dalam segala hal demi mengejar mimpi dan cita cita  adalah yang bisa membuat 5 cm lahir.Bahwa seperti ditulis dalam 5cm,kekuatan mimpi dan cita cita serta doa adalah segalanya bagi setiap usaha yang dilakukan setiap manusia.Selalu memberikan yang terbaik kepada kehidupan dengan apa yang terbaik yang kita miliki setiap hari, dan selalu punya impian dan cita cita  di dalam hidup kita  sebagai salah satu cerminan rasa syukur kita kepada yang Maha Kuasa …

 

Saya pernah menerima email dari seorang pembaca 5 cm bagaimana 5 cm telah mengubah hidupnya dan membuat dia lebih berani melangkah ke kedepan , dan bagaimana karena 5 cm dia merasa bahwa kita harus bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan,karena masih banyak orang kurang beruntung dari pada kita;atau juga beberapa orang teman yang telah bisa melangkah lebih mantap karena sekarang ada  5 cm di dalam dirinya .Juga  dari beberapa teman di milis yang bilang bahwa dia semakin dekat dengan sahabatnya karena 5 cm.Bagi saya tidak ada hal  yang bisa  lebih membahagiakan saya di dunia  dari pada semua hal diatas.

 

Bersama ini saya juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kelahiran 5 cm, dan bagi semua pembaca yang telah meluangkan mata ,waktu, dan hatinya untuk 5 cm.

 

Dan memang seperti saya tulis di 5 cm salah satu saat terindah bagi seorang manusia adalah ketika sebuah mimpi telah selesai dan menjadi kenyataan.Sekali lagi sebuah mimpi menjadi kenyataan dan 5 cm adalah salah satu mimpi itu.Walaupun saya sadari saya masih harus lebih banyak belajar…Saat ini ,saya punya sebuah buku,sebuah karya cipta.

 

Sekarang mimpi saya telah selesai dan  menjadi kenyataan…  Saya berpikir kapan saya akan berhenti memberikan yang terbaik dari diri saya bagi 5 cm?

 

Setelah berpikir  saya memutuskan…  Saya tidak akan pernah berhenti dan tidak mau berhenti memberikan yang terbaik bagi 5 cm dan  bagi apa saja yang saya lakukan di kehidupan ini setiap hari . Saya akan terus memberikan kehidupan yang terbaik dari diri dan  saya tidak akan pernah berhenti….

Saya tidak akan pernah berhenti…

 

Semoga ALLAH SWT mengijinkan bagi seorang yang masih banyak sekali  kekurangan dan masih harus belajar lebih banyak lagi ini ..Amin

 

“Cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya,tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat keatas, lapisan tekad yang  seribu kali lebih keras dari baja ,hati yang akan bekerja lebih keras  dari biasanya,serta mulut yang akan selalu berdoa”.  ( 5 cm )

 

Terima kasih.

 

 

 

19
Jan
09

Halo semua lagi
(bener gak ya nulisnya disini) )

Di email banyak sekali pembaca yang minta supaya 5cm di angkat ke layar lebar. (cie bahasanya…). dan allhamdulillah setelah lelah mencari PH yang mau berangkat bikin filem ke Mahameru akhirnya ada juga yang mau, banyak yang mau tapi nggak mau ke mahameru, guenya nggak mau, bukan 5cm kan kalo nggak ke mahameru atau mahameru di bikin di bukit apa gitu? ( bukit nusa indah) apa jadinya?

jadi, HOREEEE!!! “5cm” akan segera di filmkan tetapi belum tahu kapan…releasenya skenario sedang ditulis, dan ternyata susah ya bikin skenario, apa lagi gue rada sotoy skenarionya mau gue handle sendiri…mudah mudahan sih bisa, karena harus menerjemahkan essensi kata kata dalam rangkaian kelaimat kedalam satu gerak gambar dan yang dnamis ( alah apa sih don bahasa lo?), pokoknya sekarang skenarionya lagi dibikin… jadi tunggu aja ..

kapan releasenya?
tergantung cuaca di mahamerunya…
kata Ph nya sih paling lambat 2010…Paling cepet akhir 2009…

ada yang mau kasih masukan siapa yang bakal jadi Genta, Zafran, Riani, Arial dan Ian…

mmh..siapa ya? bantuin dwong ! kasih tau dong…! lo kali bisa jadi siapa gitu diantara mereka berlima? )

Regards
Donny Dhirgantoro

19
Jan
09

” Halo semua, aduh! lagi belajar bikin blog untuk “5cm”, dan ternyata susah juga yah.. ( ada yang mau ajarin?) tujuannya supaya kalo mau contact apa aja tentang “5cm” disini aja ya. soalnya di kedua email saya terlalu penuh dan saya minta maaf yang sebesar besarnya karena belum bisa bales semua email yang masuk…(fuh)… maklum norak, kagetan saya orangnya , terima email banyak banget, belum siap…mendunia… So mari….mari…kita obroliin Genta Arial Riani Zafran Ian , Deniek dan Dinda ( udah nulis banyak banyak bener nggak ya nulisnya disini?)

regards,

Donny Dhirgantoro

Dreams.Faith.Fight

Help :)




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.